Sabtu, 06 Maret 2010

Kembang Laras

Cerpen Catatan Hati
Oleh:Arief Rachman Heriansyah

Kembang Laras
                Kaki kecil itu terus melaju menelusuri deretan rumput tinggi yang semampai dengan pinggangnya.Napas yang menderu tak membuatnya semangat larinya surut.Jantungnya semakin berdegup kencang.Di benaknya Cuma ada satu,yaitu harus segera sampai di rumah.Rumput-rumput tinggi yang menghalangi langkahnya tak dihiraukan sama sekali.Sang surya mulai condong ke arah barat,pertanda senja akan datang.
                Perlahan-lahan teras rumahnya sudah mulai nampak.Dilihatnya sang ibu sedang menyapu di halaman rumah.Sesudah tibanya ia di depan rumah diaturnya dulu napasnya yang tak karuan,hingga ia luapkan semua perasaanya.
                “Ibu...!!!” Sejenak ia menunggu sang ibu menggubris panggilannya.
                “Haah..hah...Bapak,Bu...”
*****
                “Ibu,Laras pergi sekarang...”
                Lastri tertegun dengan ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Laras,putri semata wayangnya.Ada perasaan kaget bercampur keheranan yang terselubuk dalam benaknya.
                “Jangan,Nduk! Masih terlalu pagi,lagian...”
“Harus sekarang,Bu! Laras nggak tahan lagi melihat Ibu menderita.Setiap hari Ibu menangis Cuma karena memikirkan nasib Bapak.Sudah sebulan Bapak tak pulang-pulang.Katanya narik angkot,tapi tadi malam Bang Karjo bilang semalam melihat Bapak di pasar desa sebelah jadi copet,dikejar-kejar orang tapi lolos,terus..”
“Cukup Laras!!!” Suara Lastri tiba-tiba mengejutan anaknya.
“Kamu tak semestinya berkata kasar begitu.Bagaimanapun juga dia bapak kandungmu.Kamu tak boleh berprasangka buruk seperti itu!”
“Ma’af,Bu...” Suara Laras melemah.ada perasaan menyesal dalam benaknya karena telah berkata lancang pada ibunya.
“Laras janji akan membawa Bapak pulang.Kita akan hidup bersama lagi.Pegang janji Laras,Bu.”
“Tapi kamu masih kecil,Nduk.Kamu anak perempuan.Tak boleh pergi jauh-jauh dari rumah.apalagi sendirian begini.percayalah ada Ibu,Bapak akan segera pulang secepatnya,percayalah!”
“Tak apa-apa,Bu.laras sudah besar.Laras tida mau lagi melihat Ibu bersedih.Laras akan kembali seelum matahari tenggelam,tentunya dengan membawa Bapak.Laras Pergi yah,Bu.Assalamualaikum...
Belum sempat Lastri menjawab,anaknya sudah nyelonong pergi.Ia terkesiap.Hatinya terasa ngilu.Dengan napas tercekat,dikejarnya Laras dengan langkah tertatih-tatih dan air mata yang yang sudah menganak sungai di pipinya.
“Laras! Dengar kata Ibu...Gosip itu bohong!!” Ucap Lastri serak.
Laras tak menggubris.
Lastri terus mengejar anaknya.Ia menjerit kecil,kakinya yang cacat sebelah ini nampaknya tak mampu bertahan lebih lama.Laras tak tega melihat ibunya kelelahan berlari.Hingga ia  hampiri Ibunya dengan tangisan yang mengharu biru,demikian juga dengan Lastri.Mereka berpelukan.
“Bu...Laras nggak rela dengan fitnah merek semua,Bu!” Laras tersungkur pilu.
“Dengar kata Ibu sayang...Bapak nggak seburuk itu.Bapakmu...” Terhenti dalam sedu sedan.
“Kamu jangan pergi.Ibu mohon...”
Laras menggeleng.Ia seka air mata ibunya.Dengan nada getir terucap apa yang telah lama terpendam dalam hatinya.
“Bu,Laras kangen Bapak...Laras pingin sekali melihat Bapak...” Laras terisak.
Lastri terpana dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut anaknya.Sehingga dengan berat hati ia relakan anaknya pergi dengan guyuran air mata dan hati yang terasa sakit teramat sangat.
*****
Anak yang ia namai Kembang Laras ini masih berumur tiga belas tahun.Kendati demikian,Laras sangat berbeda dengan anak-anak sebayanya.Laras sangat pemberani dan terlihat sedikit lebih dewasa.Sangat berbeda dengan anak-anak lainnya yang lebih suka bermain.
Darman,suami yang ia sayangi.Orang yang paling ia cintai di dunia ini.Hilang entah ke mana.Sudah hampir sebulan suaminya tak pulang.Lastri tidak tahu harus berbuat apa.Tiap hari ia menangis memikirkan nasib suaminya.
Krisis ekonomi yang melanda semakin menyusahkan dirinya dan Laras.Hutang semakin menumpuk.Uph dari mencuci pakaian tidak akan memadai kebutuhan pokoknya.Sekarang sudah semakin jarang tetangga memperkerjakan dirinya sebagai buruh cuci.Karena sekarang sudah banyak yang memakai fasilitas yang lebih moderen.
Lastri tidak percaya bahwa si Karjo mengatakan suaminya adalah seorang copet.Tidak sama sekali! Ia sangat marah dengan pernyataan ini.Tapi tiga hari yang lalu Pak Lurah juga pernah bilang kepadanya,bahwa beliau pernah melihat suaminya mengambil dompet seorang ibu-ibu.Tidak! Itu tidak mungkin! Lastri membatin kesal.Ingin ia hancurkan dunia serta isinya ini kalau suaminya dikatakan seburuk itu.Semoga,Laras bisa membuktikan semuanya,bahwa suaminya bukan orang jahat.

Matahari sudah semakin meninggi.Bahkan sudah menandakan tibanya sore.Di pasar perbelanjaan dekat terminal ini,Laras tetap bersikukuh mencari bapaknya.Sudah berjam-jam ia cari.Tapi hasilnya nihil.Bapaknya tidak ia temukan juga.Bahkan seluruh pasar sudah ia telusuri.Terminal dan pangkalan angkot pun tak luput dari pencarianya,siapa tahu ada bapaknya yang jadi supir angkot.Tapi semua supir angkot yang ia temui bukanlah bapaknya.
Laras sudah hampir putus asa.Ia berdiri mematung di depan warung samping terminal.Rasa dahaga dan lapar sudah menyerang perutnya dari tadi.Disaat kebingungan itu,tiba-tiba ada yang menubruknya dari belakang.
“Aduh...!” Laras menjerit kaget.Terlihat orang yang menubruknya tadi sudah berlari terpingkal meninggalkannya.
“Maling...maling..!!!” Terlihat banyak orang yang berlari mengejar orang tadi.
“Kejar malingnya!” Orang-orang semakin banyak yang ikut berlarian mengejar.bahkan para sopir angkot juga turut serta.
Laras terpaku menyaksikan pemandangan yang belum pernah dilihatnya seumur hidup itu.Ia kenali betul orang yang dikejar itu dari jauh.Tiba-tiba hatinya terasa sesak.Ternyata...Bapak! Orang itu memang bapak! Batin Laras terasa gemuruh.Ia rasakan sekujur tubuhnya seperti disambar petir.
“Tidak mungkin...Itu pasti bukan Bapak.Aku harus memastikannya!”
Laras berlari gesit mengikuti orang-orang yag tengah mengejar maling itu.Bagaimana pun juga ia harus memastikan baha orang itu bukan bapaknya.
Ternyata si maling keliru mengambil arah jalan.Ia terjebak di gang buntu.Langkahnya terhenti.Keringat dingin terlihat telah membasahi sekujur tubuhnya.
“Tolong ampuni saya...Saya khilap...” Ucapnya lirih.
Para kerumunan masa sudah membludak ingin melampiaskan kesesalan pada maling itu.Mata mereka seperti binatang buas yang siap memangsa hasil buruannya.Terlihat si maling makin ketakutan.
“Hajar dia!!!” Teriak salah seorang dari mereka.
“Ayo sikat! Dasar maleng,mbendino nyolong.Tapi gordino iki koe kecekel!” Teriak yang lain tak mau kalah.
Tak ayal,mereka membabi buta mengoroyok maling itu.Si maling Cuma bisa berteriak aduh dan meringis kesakitan.Sementara Laras mencoba melihat lebih jelas siapa gerangan yang tengah dipukuli kerumunan masa itu.Ternyata memang bapaknya! Laras sangat terkejut.
“Tolong jangan sakiti dia! Dia Bapakku....” Laras mencoba membela.
“Tolong...tolong kasihani dia!!!”
Laras mulai berontak dan berteriak keras.Tapi teriakannya sedikit pun tak direspon oleh mereka.Laras mencoba ikut bergerumul di tengah kerumunan guna menyelamatkan bapaknya,tapi tidak mungkin dengan tenaga dan badannya yang sekecil ini.Laras mulai menangis.
“Bapak...! bapak...! Ini Laras anak Bapak!!!” Laras berteriak sekuat tenaga.Tapi suaranya seperti ditelan bumi,tak kedengaran sedikit jua pun.Nyali Laras ciut.Ia tak mungkin dapat menyelamatkan bapaknya sendirian.Ia harus meminta tolong kepada seseorang.
*****
Lastri terpana melihat anaknya yang baru datang dengan pakaian kusut dan napas yang tak beraturan.Diletakkannya gagang sapu yang dari tadi dipegangnya.Dengan tergopoh-gopoh dihampirinya putri semata wayangnya yang terlihat seperti meminta pengharapan darinya.
“Ada apa dengan Bapakmu,Nduk?” Lastri berkata lirih.
‘Bu...kita harus pergi menolong Bapak sekarang juga.Bapak digebukin orang!”
Deg.Jantung Lastri terasa terhenti.Ia sudah menduga bakalan begini nanti jadinya.Memang,siang tadi Lastri bertemu dengan si Karjo di warung Mbok Warni.Karjo lalu menceritakan perihal Darman suaminya yang dilihatnya mencopet di pasar perempatan terminal.Tapi Lastri Cuma diam tak menanggapi dan langsung pergi.Di rumah,Lastri menangis sejadi-jadinya.Ia tak terima kalau suaminya yang amat ia cintai itu dikatakan pencuri!
Dan sekarang,Laras buah hatinya telah mengungkapkan semuanya.Lastri mencoba untuk tegar.Ia tak tahu lagi harus bagaimanakah kehidupannya setelah ini.Apakah dunia bisa membuatnya bahagia seperti dulu,berkumpul bersama buah hati dan suami tercinta.Akankah semua kenangan manis itu akan terulang kembali? Entahlah...sepertinya Lastri harus menerima kenyataan pahit yang diberikan Tuhan kepadanya.Ya Gusti...kuatkanlah hambamu ini..
“Nduk,kita pergi sekarang.Kita temui Bapakmu...”
Banjarmasin,6 Maret 2010 (22.OO)
Mungkinkah pelangi itu t’lah lenyap ditelan kabut senja?

 

14 komentar:

agung aritanto mengatakan...

kayanya aq dah pernah deh baca cerpen ini

thay kyp kbr baek j lo n kyp kabar kontra ma fpp

Arief Rachman Heriansyah mengatakan...

@Agung Aritanto: Baek z,,,, Seharusnya hari inie Km ikutan kmi ber-4 kopdar chuy,,,,

bana-GANGSTER mengatakan...

nih mah...pernah baca ane...

yusami mengatakan...

cerita bagus...o...ya..kali ini aku pengen persembahkan sebuah award backlink, di ambil ya di http://yussami.wordpress.com/2010/03/07/kejutan-untukku/

HE. Benyamine mengatakan...

ceritanya menarik ...

nah, kalau laras pulang dulu menjemput ibunya ... apa nggak terlalu jauh, dan bapaknya entah bagaimana ...

Rony danuarta mengatakan...

panajng banar..... cerpen kah, cerpan...?

Qorianisme mengatakan...

Uyuh bacanya,,,,Rancak banar dah tabaca,,,

Andrie Callista mengatakan...

nice info,baru tau ini juga blogger KKB,:)

Andrie Callista mengatakan...

nice info,baru tau ini juga blogger KKB,:)

dennias mengatakan...

Kada sawat mambacai.. langsung komen.. ha ha..

M Mursyid PW mengatakan...

Saya copas dulu, bacanya nanti.
Kelihatannya menarik.

Arief Rachman Heriansyah mengatakan...

@Mau kirim ke B.Post ah....

Zian X-Fly mengatakan...

Cerpen yang cengeng, haus metafora, judul tidak mengesankan, etalasi tak sedikit pun terkesan cantik, pendalaman tokoh kurang, endingnya biasa, klise. Rancaki lagi latihan.

Nur H mengatakan...

menyentuh dek...
banyak kejadian ky gini di indonesia ya...
knapa saudara2 kita cenderung mencari jalan yg termudah ya...