Kamis, 03 September 2009

Aku Bukan Gay

Cerpen ini pernah dimuat di harian koran "Banjarmasin Post"

Pd edisi:Minggu 5 Juli 2009 di rubrik Seni dan Budaya



Dipojok sana, tepatnya bangku dibawah pohon beringin halaman sekolah. Masih aku lihat kau sedang bercanda dengan murid lainnya. Ah...naluriku turut senang jika melihat senyum itu mengembag dibibirmu. Andai saja senyum itu untukku... Andaikan kau tahu, bahwa aku merindukan saat-saat seperti itu... Disaat kita masih akrab sebagai sahabat. Bagaikan bulan dan bintang yang bercanda di tirai langit malam. Tapi sudah musnah diterpa sinar sang surya cakrawala.
Tak bisa kupungkiri, aku masih memaku memperhatikanmu dari jauh. Kubiarkan saja bulir-bulir bening berjatuhan dari mataku, ah...
****
“Maaf, Kevin... aku tak bisa lagi berteman denganmu.” Kau berkata gugup sambil menunduk kaku.
“Kenapa, Yan? Apa aku ada berbuat salah denganmu?”
“Bu...Bukan begitu...Aku cuma tak ingin jadi bahan olokan teman-teman saja. Aku tak ingin di permalukan!”
Aku tersentak. Ingin menangis rasanya, jika aku tidak keburu sadar bahwa aku ini laki-laki.
“Tapi aku tak seperti yang mereka katakan, Yan. Mereka pembohong. Semuanya fitnah!”
Aku mengelak. Kutahan air mata yang berebut ingin keluar menelusuri pipiku yang putih mulus ini.
“Mungkin mereka mau menghancurkan persahabatan kita, Yan. Asal kau tahu saja.. Aku ini normal!”
Mataku makin memerah. Kubiarkan air mataku mengalir perlahan. Kulihat sosok didepanku terpaku menunduk. Ya, ia satu-satunya orang yang menger ti akan keadaanku selama ini.Satu-satunya orang yang bisa menganggapku sebagai teman. Tapi sekarang...
“Maaf...” Akhirnya terlontar juga suara dari mulutnya.
“A...aku tak bermaksud menyakiti hatimu, Vin.”
“Terus mengapa kau terus menjauh dariku akhir-akhir ini dariku, Yan? Apa kau tak ingin bersahabat lagi denganku? Jangan sampai persahabatan kita pecah. Aku mohon...jawab yan!?”
Suaraku makin meninggi. Air mataku makin menjadi-jadi . Aku tak tahu lagi, masih bisakah persahabat ini terselamatkan.ngan
“Kevin...aku tak terlalu yakin jika yang dikatakan teman-teman tentangmu itu benar. Tapi yang jelas,aku tak ingin dipermalukan! Ma’afkan jika selama kita berteman aku banyak berbuat salah.Selamat tinggal....
Lirih kau berucap.Seakan menggores luka di hatiku.Perih.Beginikah keputusan yang t’lah kau ambil,Yan?Sungguh,terlalu sakit bagiku.
Sekarang sosok itu melangkah menjauh meninggalkankuyang berdiri sendiri,terpaku tanpa suara.Air mataku terus saja mengalir,malah semakin deras.Kuseka air mataku dengan sapu tangan yang selalu tersedia di saku celanaku.
Ini semua pasti ada sangkut pautnya dengan si Dihar,gumamku.Dihar bangsat ! Isakku tak bisa ditahan.Tangisku kembali pecah.
****
Entah kenapa aku dilahirkan dengan fisik yang tak sama dengan laki-laki pada umumnya.Perilaku cenderung kewanitaan dan tubuh gemulai.Kulitku putih,bahkan bisa dibilang sangat putih.Begiu pula dengan wajahku.Saking mulusnya sampai-sampai satu jerawatpun enggan menodai.Dilengkapi dengan sepasang mata yang bening dan sipit seperti orang China.Kar’na memang ibuku mempunyai silsilah dari negri tirai bambu itu.
Aku sangat sering ditaksir cewek-cewek di sekolah.Bahkan sebagian berani menembak aku secara terang-terangan.Ironisnya tak ada satu cewek pun yang aku terima.Semuanya kutolak secara halus dengan alasan aku belum siap pacaran.Padahal bukannya aku tidak siap pacaran,melainkan aku selalu teringat pesan ibuku.Katanya sebagai orang yang ta’at beragama tidak boleh pacaran.Sebaiknya menikah dulu baru pacaran.Ya,aku tak perna lupa engan pesan ibu yang satu ini.Mungkin aku tergolong anak yang berbakti pada orang tua.
Tapi semua kelebihan yang kumiliki sangat menyiksa batinku.Aku dibilang orang mirip cewek.Di mata mereka aku sangat lebay.Bahkan yang lebih parahnya lagi aku dibilang tidak normal! Perihal ini dikuatkan kar’na persahabaanku dengan Ryan.Mungkin mereka bertanya-tanya kenapa aku Cuma mau berteman dengan Ryan saja? Kuyakini,Karena Cuma dialah satu-satunya murid di SMA ini yang mengeri akan keadaanku.Satu-satunya orang yang bisa menerimaku sebagai teman.
Tapi kenyataannya? Aku sangat tertekan.Tersiksa malah.Andai orang tuaku tahu bagaimana nasib anak semata wayangnya menderita.Tidak! Aku tak akan pernah mengadu pada mereka sekalipun.Aku tak mau dicap sebagai anak yang cengeng,yang hidupnya selalu bergantung pada orang tua.
Namun,pantaskah aku menyalahkan Sang Pencipta kar’na telah memberikan karunia terhebat untukku meskipun dipandang miring oleh orang banyak.Padahal aku cuma mau meyakinkan pada mereka,bahwa aku anak yang normal. Ya Allah... Tolong katakan pada mereka, aku laki-laki yang sah. AKU BUKAN GAY!!!
Dikelas aku duduk di pojok paling belakang. Sendiri. Semuanya menjauh dariku. Tak seperti dulu, ada Rian menemani disampingku. Kini ia pindah kebangku lain sejak kejadian itu. Sekarang tak ada lagi yang mau menyapa maupun bicara denganku. Bahkan untuk sekedar menanyakan pelajaran pun, jangan berharap. Sumpah, dikelas ini bagai neraka bagiku. Terasa jenuh dan membosankan!
Walaupun aku selalu merasa, bahwa aku memiliki jiwa cenderung kewanitaan. Entah darimana datangnya sifat itu. Tapi sumpah! Aku tertekan, tersiksa, bahkan yang lebih parahnya lagi aku di kucilkan! Aku paling benci jika aku sedang lewat dihadapan teman-teman di kantin, di lapangan, maupun dikoridor lorong sekolah. Mereka selalu berbisik tidak karuan, setelah itu mereka tertawa cekikikan sambil sesekali menoleh kepadaku dengan pandangan yang aneh. Tentu saja aku lewat dengan tergesa-gesa sambil menunduk malu. Puas kalian mempermalukanku?
****
“Ryan Effendi”
Kau maju kepanggung saat namamu di panggil Pak Kepsek di acara kenaikan kelas. Ya, tahun ini kau kembali meraih prestasi juara kelas. Sungguh, aku sangat beruntung bisa berteman dengan orang sehebat kamu, Yan. Semua mata di Auditorium ini tertuju padamu, tak terkecuali aku.
Saat kau menerima penghargaan yang diserahkan oleh Bu Ima, kau sekilas menoleh kepadaku yang duduk di bangku pojok. Ah, aku jadi salah tingkah. Kucoba untuk tersenyum manis kepadamu, walaupun dihatiku sangat berbunga-bunga dikala kau sempat menoleh kepadaku. Tapi... Kau tidak membalas senyumku. Sama sekali tak menggubris, malah langsung membuang muka. Aku kecewa,ya...aku kecewa.

Itu kejadian satu jam lalu. Sekarang kulihat kau sedang santai di kantin bersama Dihar dan kawan-kawannya.Kalian sesekali tertawa,entah apakah yang kau bicarakan dengan mereka.Namun,nampak jelas dari wajahmu menyiratkan kau sangat senang hari ini.Tentu saja,kau barusan meraih prestasi juara kelas berturut-turut.
Kuberanikan diri untuk menyapamu.Dibenakku hanya ingin mengucapkan selamat kepadamu atas prestasi yang baru kau raih,itu saja.Serta mengobati kerinduan karena sudah tiga hari ini kita tak bertegur sapa.
Aku melangkah perlahan menuju tempat duduk kalian.Tentu saja dengan senyum manis yang selalu menjadi khasku.
"Ryan..."
Sesaat kau menpoleh kepadaku.Begitu juga Dihar dan ketiga temannya.Tampak di wajahmu ada goresan tak bersahabat.Kulihat wajah Dihar menandakan tidak begitu sernang ats kehadiranku secara tiba-tiba.
"Selamat,yah..."
Kata itu terlontar dari mulutku dengan perlahan.Aku segera menjauh dari tempat duduk kalian berkumpul.Biarlah kau tak menjawab atas sapaanku tadi.Toh,yang penting aku sudah menyampaikan kata "selamat" padamu.Tapi hanya beberapa langkah aku menjauh,terdengar Dihar mengoceh kejelekanku.Sungguh tersa sakit bila mendengarnya.

"Eh,Yan! Loe masih saja ya berteman dengan orang yang ngaak normal s'perti dia?!"
Aku menoleh repleks.Kulihat ketiga temannya tertawa cekikikan.Sedangkan kau Yan,cuma diam saja.Tanpa ekspresi.
"Ingat Yan....Dia itu nggak normal.Dia itu Gay!"
Telingaku panas mendengar ocehan Dihar barusan.Kupalingkan langkahku dan bergegas menuju ke arah mereka.Aku selalu tak tahan bvila difitnah dan diperolok berlebihan.Mataku mulai memerah.
"Dihar! Tanganku menghantam meja tepat di hadapannya.Dihar sedikit kaget,tapi dengan cepat ia menyembunyikan rasa kagetnyan.Berusaha untuk santai menguasai keadaan.
"Heh,berani juga nih cewek !" Dihar meledekku.
"Camkan baik-baik,Har.Aku ini tak seperti yang kau kira.Aku laki-laki.Aku bukan gay !"
"Heh,loe yakin ?! Buktinya loe s'lalu nolak bila ditembak cewek.Apa itu bisa dikatakan normal ?!"
"Bukannya aku nolak.Tapi aku cuma ingat pesan ibuku,kalau aku tak boleh pacaran..."
"Alaah...dasar anak mami ! Bilang aja loe sukanya cuma ame cowok.Buktinya,Ryan aja loer taksir.Apa nggak aneh,tuh ?!"
"Apa ?! Kamu brengsek Dihar.Gara-gara kau Ryan tak mau lagi beteman denganku.Dasar bajingan !"
Diriku mengebu-ngebu.Jika saja tak ada Tuhan,hendak kubunuh saja Dihar brengsek ini.Kuseka air mataku yang sudah bercucuran dari tadi.
"Hey ! Lihat si bencong nangis.Emangnya loe kira ini tempat apa,hah ?! Udah,sana...sana...Muak gue ngeliat muka loe !"
"Bangsat..." Gumamku.Aku tetap berdiri memaku di tempat.
"Heh,loe punya telinga apa ? Gue bilang pergi,ya pergi ! Loe budeg ya ?!"
Brugh...Satu tamparan tepat sasaran mengenai pipi kananku.Aku terpelanting sejauh dua meter dari tempat duduk mereka.Agh...sumpah ! Sakit sekali rasanya.
Aku masih duduk tersungkur sambil memegang pipi kananku yang lebam.Tentu saja sambil meringis kesakitan.
Dihar masih berdiri memamerkan tangannya yang kekar sambil dikepal.Sambil dihiasi senyumnya yang sinisdengan ujung bibir yang mencxuat ke atas.
Kulihat ketiga temannya semakuin ketawa keras.Sedangkan kau,Yan...Kenapa kau tak membelaku,Yan ? Kenapa ?
Semua mata di kantin kini cuma tertuju padaku.Tak da perlawanan.Pada dasarnya aku memang takut berkelahi.Apa lagi bila berhadapan dengan si Dihar preman sekolah ini.Suasana hening sesaat.
"Ngapain loe tetap di sini,hah ?! Gue hitung sampe tiga,kalau elo tetap di sini,jangan salahkan gue bila muka loe yang mulus itu hancur !!!"
Semua orang di kantin kini menertawakanku.Kenapa aku selemah ini...Padahal aku laki-laki !
Aku berjalan gontai meninggalkan kantin sambil memegang pipi kananku yang masih berdenyut.Ku sempatkan menoleh padamu,Yan.Kau hanya memandang nanar kepadaku.Tidak lebih.
****
Langit sore ini begitu gelap.Masih menyisakan gerimis di luar sana yang engganuntuk berhenti membasahi bumi.Kau letakkan seikat bungan kenanga di batu nisan yang berdiri kokoh di atas tempat terakhirku.
Ya,sejak kejadian di kantin tempo lalu,aku absen di kelas.Bukan tanpa alasan aku tak hadir,melainkan penyakit actasisce yang kuidap sejak lahir kambuh lagi.Sudah stadium tiga.Sungguh hal yang sangat mengejutkan bagi orang tuaku,terutama ibuku.Aku masih ingat dikala ibuku tiap malam menangis tersedu-sedu.Memikirkan nasib putra semata wayangnya nyaris di ujung tanduik.Dan berusaha keras memperjuangkan nyawa anaknya agar bisa terselamatkan.Perih sekali.
Dua minggu lamanya aku sekarat tak sadarkan diri.Begitu pula lamanya aku tidak masuk sekolah.Satu sekolah geger.Ryan,kaulah yang paling panik dan gelisah atas peristiwa yang menimpaku ini.Tapi herannya kenapa kau tak kunjung menjengukku,Yan ? Kenapa ? Padahal aku di sini mengharapkan kedatanganmu.Uh,walaupun kau akhirnya datang,tapi sudah kunyatakan terlambat ! Dunia kita sudah berbeda.Kau masih mempunyai masa depan,impian dan segenap cita.Sedangkan aku...Tuhan berkehendak lain.
Kau masih berdiri di hadapan makamku dengan pandangan yang sulit untuk diungkapkan.Tiba-tiba satu bulir bening menetes tepat mengenai gundukan merah di atas pusaraku.Matamu berkaca-kaca,namun secepatnya kau menyekanya.Tapi aku dapat merasakan air mata penyesalan itu.
"Ma'af..."

Kau berkata lirih sambil sesenggukan.Cuma itu sajakah kata yang dapat kau lontarkan kepadaku,Yan ? Ah,aku tak mengerti maksud dari isi hatimu.
Cukup sudah semua penderitaan yang kualami.Tapi aku tak tahu bagaimana dengan perasaanmu saat ini.Apakah penyesalan terus menikammu yang dirundung perasaan berdosa ? Cuma kau yang bisa merenungkannya.Bagiku,sungguh penyesalan yang tiada berarti.
Gerimis di luar sana berubah jadi hujan yang sangat lebat.Mungkin dapat menjadi saksi bisu ata penyesalanmu saat ini,Yan.

Penjara Suci,11 Juni 2009
By:Arief Rachman Heriansyah


29 komentar:

Bunda Noni mengatakan...

Ehh...selamat ya! Kamu hebat banget bisa mempublikasikan tulisanmu di media masa.

BTW nih...ada honornya nggak? He...

Arief Rachman Heriansyah mengatakan...

@Bunda Noni:Iyaa...jelas ada donk! lumayan lah honornya itu buat tebelin kantong kita,he..

ROSMANA APOLLA PUTERA mengatakan...

KEREN!!!!

Ahmad El Habash mengatakan...

Wuiiiiih......,KEREN!
Selamat yah!.Ngga sia-sia loe bikin cerpen, mudahan loe menjadi Novelis yg handal dan hebat dalam dunia jurnalistik.Yg pastinya laris deh!
Hehehehe..^_^
Amiiiiin!!!

bana hip hop blink blink mengatakan...

eh loe mang gay toh......

eh sori sori...bukan maksud nya gaya banar... gyahahahahha

mahrani mengatakan...

eeee postingan loe terlalu panjang deh .,,,,dan gue fikir fikir lue tu emang gay

Muhammad Qori mengatakan...

aku bukan gay tapi lesbian!!!

huhuhuhuh...

bagi royalti yang ngetik oi!

Admin Kontra mengatakan...

ada yang diberitahukan dikontra!
silahkan klik link saya:

yulian mengatakan...

cerita yang bagus...

rolly mengatakan...

Bagus, menarik. tp aneh, bukan tokoh yg bercerita tp pengarang, masa orang mati masih bisa bercerita, padahal jelas disitu tokoh yg bercerita. hehehe


sukses bos....

fahrizal mengatakan...

haha... itay bikin ngiri...

Arief Rachman Heriansyah mengatakan...

@Rosmana:Ahh...masa sich??? ^_^

@El-Habash:Amien...10.000X Do'amu akan mengantarkanku ke jalan kesuksesan!!!

@Bana Hip-Hop:Eits.....nie anak apes dech..Masa gue dikatain GAY!!! he..

@Mahrani:Yahh....Nie anak sama macemx dengan rapper itu...:-D

Arief Rachman Heriansyah mengatakan...

@Aa Qori:Meong...meong...Nie anak ada-ada ajha! Royalti....terus yang dia omongin!

@Admin Kontra:Saya udah tau kok.

@Yulian:Makacih Mas atas pujiannya!!!

@Rolly:He..he..akhirnya ketahuan juga yang baca sampe tuntas.

@Fahrizal:Ha..ha..Mas Zal juga bisa bikin iri loh...^_^

Mr.Bean mengatakan...

Baru kali ini Saya baca cerpen yang temanya beda dari yang lain,sukses buat kamu!

Echa_Chan mengatakan...

Ehh..eh..

Ajarin gue dunk gimana caranya supaya tulisan kita ntu dimuat di media,pliisss ya!!!

Arief Rachman Heriansyah mengatakan...

@Mr.Bean:Makasih ya atas pujiannya!!! he..he..

@Echa_Chan:Gampang ajha kok,bisa lewat pos atau e-mail.asal tulisan yg lu kirim itu layak,Insya Allh dimuat.Selamat mencoba!

Muhammad Qori mengatakan...

ngetik is money tauk!~

caCabi mengatakan...

terus berkarya dekkkkkkk...

salutt salutttt

pengen deh bisa nulis juga yang tulisan nya bermakna dan punya arti.. huhu..

kursus se rifff

Arief Rachman Heriansyah mengatakan...

@Aa Qori:Iya...iya...Ulun tahu ae...Apees dech!

@Kak Rika cacabi:Yang pertama makasih ya atas kunjungannya,akhirnya dech...
Kalau kita mau berusaha udah pasti akan membuahkan hasil yang manis end nggak mengecewakan,khan? ^_^

Muhammad Qori mengatakan...

mohon aktif berkomentar dan posting dikontra sesuai kategorii postingan...

Muhammad Qori mengatakan...

mohon aktif berkomentar dan posting dikontra sesuai kategorii postingan...

ROSMANA APOLLA PUTERA mengatakan...

Insya Allah jadi mas! hehehe

Ancayimuet mengatakan...

memang bagus cerpenya...!

Arief Rachman Heriansyah mengatakan...

@Aa Qori:Meong.....inggih dech!

@Rosmana:Moga ajha Ya ^_^

@Anshor:Wahhh,nie anak akhirnya mampir juga

haney mengatakan...

bagus ni...
q terpana bacanya...gila aja bahasanya...
menarik pokoknya...

sukses selalu ya
oiya minta ijin copas ya...wat q prin...(wat baca2 di kos...)
tetep namamu lah dipajang
ok?

Arief Rachman Heriansyah mengatakan...

@Haney:Iya dunk Kak! Dengan senang hati.Nggak papa kok,malah aku juga turut senang,he..he..(^_^)

Ombung (^ ; ^)v mengatakan...

wah akhirnya cerpen yg pernah masuk koran ini, ahirnya diposting juga! aq copy ya rif! buat dibaca2 sambil nunggu buka

Arief Rachman Heriansyah mengatakan...

@Ombungt:Iya!!! Dengan senang hati,saya malah bangga loh...

Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.